Tema Hari Pahlawan
Kono kikai ni, watashi wa” eiyū no hi” to
daishita supīchi o o todoke shitai to omoimasu. Enzetsu wa eiyū, aikokushin to
nashonarizumu wa hijō ni wareware no hatten tojō-koku ni jūyōdearu koto o
omoidasa seru tame ni ito sa rete ita. Sono taido ga nakereba, watashi-tachi no
kuni ga ikinokoreru yō ni suru koto wa fukanōdesu. Brother – kyōdai Maitoshi,
watashi-tachi 11 tsuki 10-nichi memoriarudē o kinen suru. Kore wa, shokumin-chi
shugi to no tatakai de, indoneshia no hitobito ni kansha suru rekishi no naka
de watashi-tachi no kuni o han’ei shite imasu. Eiyū no hi mo, senjin-tachi ga
kono kuni o kōchiku suru tame ni subete o gisei ni shita koto o shimeshite iru.
Eiyū no hi wa surabaya no tatakai no rekishi kara shutoku sa remasu. Sore
wadesuga Tōsō no mokuteki to oranda-gun to rengō-gun no gun nitaisuru wareware
no hitobito Indoneshia dokuritsu. Dōmei-koku to no tatakai ni kan’yo shite iru
10 man-nin ijō no indoneshia no hitobito wa, ijō to suitei sa reru 30000 Butai.
Teki ga ushinawa reru naka, indoneshia, sukunakutomo 16, 000-nin ga shibō shi,
2000 Heishi. Tatakai wa kakumei no omoi sentō to sa reta Indoneshia wa, teikō
no kuni no shōchō to natta. Eiyū-tekina doryoku o suru koto niyotte kōryo
Indoneshia wa, tatakai ga wareware no hitobito wa kokusai-tekina shien o eru
tame ni Indoneshia dokuritsu. Sono tatakai no memori, 11 tsuki 10-nichi toshite
Memoriarudē toshite, kaku toshi o mukaemashita. Surabaya de no sentō-chū ni
watashi-tachi no kuni de hassei shita hitotsu no sentōdesu Indoneshia no
dokuritsu tōsō. Karera wa, ketsueki ya seikatsu o fukumu subete o ikenie ni
sasageru. Karera wa kuni no tame ni, karera no eiyū, aikokushin to
nashonarizumu o sen’nen shite imasu. Kotowaza ga arimasu: Ōkina kuni wa, kare
no hīrō no subete o sonchō suru kunidesu. Wareware wa Yoku mimi ni shimasu.
Wareware wa eiyū o gisei ni suru koto naku, dono kuni ga aru koto o shitte iru.
Indoneshia no dokuritsu wa, shokumin-chi shugi niyotte kyoka sa rete inai.
Brother – kyōdai Kyō, wareware wa,-koku no dokuritsu ni sunde imasu. Kore ijō
no tatakai nitaisuru Senryō. Shikashi, sore wa wareware ga tatakatte teishi
suru koto o imi suru monode wa arimasen. Ōku no shurui no ga arimasu.
Watashi-tachi ga shinakereba naranai koto to tatakatte iru. Oshoku, dangō ya
enko shugi to no tatakai Tōsō no ikutsu ka no rei o shimeshimasu. Wareware wa,
eiyū, aikoku no seishin o iji suru hitsuyō ga arimasu Kono hatten tojō-koku de
nashonarizumu. Sore wa wareware ga wareware no eiyū ni kansha suru hōhōdesu.
Kyōdai shimai; Watashi wa subete no koto wa watashi no supīchida to omoimasu.
Watashi-tachi wa, wareware no eiyū o sokushin suru tame no watashi-tachi wa
tōsō o keizoku sa se tsuzukemashou. Tatakau tame ni… Watashi-tachi no kuni no
tame ni, yori yoi mirai o zokkō! Go seichō arigatōgozaimashita.
Saudara-saudara,
Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin
menyampaikan pidato berjudul “Hari Pahlawan”.
Pidato ini bertujuan mengingatkan kita bahwa
kepahlawanan, patriotisme dan nasionalisme sangat penting dalam mengembangkan
negara kita. Tanpa sikap tersebut, maka mustahil bagi kita untuk membuat negara
kita bertahan hidup.
Saudara – saudara
Setiap tahun kita memperingati Hari Pahlawan
tanggal 10 November. Ini adalah refleksi negara kita dalam menghargai sejarah
masyarakat Indonesia dalam memperjuangkan melawan penjajahan. Hari Pahlawan
juga menunjukkan bahwa para pendahulu kita telah segala sesuatu dikorbankan
untuk membangun negara ini.
Hari Pahlawan diambil dari sejarah
pertempuran di Surabaya. Itu ketika
orang-orang kita melawan Belanda dan pasukan
Sekutu dengan tujuan perjuangan
Kemerdekaan Indonesia. Lebih dari 100.000
orang Indonesia yang terlibat di pertempuran melawan Sekutu yang diperkirakan
lebih dari
30.000 tentara. Setidaknya 16.000 orang Indonesia
meninggal, sedangkan di pihak musuh hilang
2.000 prajurit. Pertempuran itu merupakan
pertempuran terberat dalam revolusi dan
menjadi simbol nasional perlawanan Indonesia.
Dianggap sebagai upaya heroik oleh
Indonesia, pertempuran membantu rakyat kita
mendapatkan dukungan internasional untuk
Kemerdekaan Indonesia. Sebagai memori
pertempuran, 10 November kemudian
dirayakan setiap tahun sebagai Hari Pahlawan.
Pertempuran di Surabaya adalah salah satu
pertempuran yang terjadi di negara kita selama
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka
mengorbankan segalanya, termasuk darah mereka dan kehidupan. Mereka
berdedikasi, kepahlawanan mereka, patriotisme dan nasionalisme untuk negara
ini.
Ada pepatah: negara besar adalah negara yang
menghargai semua pahlawan-nya. Kita
sering mendengar tentang hal itu. Kita tahu
bahwa tanpa pengorbanan pahlawan , tidak akan ada negara ini. Kemerdekaan
Indonesia tidak diberikan oleh kolonialis tersebut.
Saudara – saudara
Saat ini kita hidup di negara kemerdekaan.
Tidak ada lagi pertempuran melawan
penjajah. Tapi, itu tidak berarti bahwa kita
berhenti berjuang. Ada banyak jenis
perjuangan yang harus kita lakukan. Berjuang
melawan korupsi, kolusi dan nepotisme
adalah beberapa contoh perjuangan. Kita harus
tetap semangat kepahlawanan, patriotisme
dan nasionalisme di negara berkembang ini.
Itulah cara kita menghargai pahlawan kita.
Saudara-saudara;
Saya pikir itu semua pidato saya. Mari kita
terus semangati pahlawan kita, mari kita lanjutkan perjuangan. Terus berjuang …
untuk negara kita, untuk masa depan yang lebih baik!
Terima kasih banyak atas perhatian Anda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar